Selasa, 28 Juni 2011

7 Jenis Tikus Baru

Tujuh jenis baru tikus hutan ditemukan di Luzon, Filipina. Penemuan ini menambah jumlah jenis mamalia asli Luzon yang hingga kini telah mencapai 49 jenis.

Observasi terhadap ketujuh jenis baru tikus ini telah dilakukan, baik secara morfologi maupun genetiknya. Hasil penelitian, ketujuh tikus itu termasuk dalam subgenus Megapomys yang masuk dalam genus Apomys.


Tikus-tikus yang ditemukan ini relatif lebih lebar. Beratnya sekitar 65 hingga 110 gram. Panjang ekornya rata-rata, sementara kepala dan badannya lebih pendek dari mamalia serupa.

Dua diantara tikus baru yang ditemukan terdapat di Gunung Tapulo di Pegunungan Zambales, dua lagi terdapat di gunung aktif Filipina, Gunung Banahaw, dua jenis lagi di Pegunungan Mingan di Provinsi Aurora dan lainnya terdapat di Pegunungan Sierra Madre di utara Luzon.

"Ini tikus-tikus mengagumkan yang tinggal di hutan yang berada di ketinggian. Meskipun mereka sering dalam jumlah banyak, mereka selalu menghindari manusia dan jarang membahayakan," kata pimpinan proyek penelitian dari The Field Museum Chicago, Lawrence Heaney sebagaimana dikutip laman livescience.com.

"Mereka memilih makan cacing tanah dan biji-bijian yang tersebar di hutan," lanjut dia.

Pemerintah dan peneliti Filipina mengatakan tempat-tempat penemuan tikus itu harus dilindungi dari proses penebaangan liar, perluasan lahan pertanian, dan penambangan liar karena menjadi habitat hidup mereka.

"Meskipun ukurannya kecil, binatang ini merupakan bagian dari keanekaragaman biologi kami yang membentuk dasar ekosistem, yang sehat," kata direktur eksekutif konservasi Filipina-Internasional, Romeo-Trono.

Spesies Kepiting Raksasa



Seekor kepiting jantan bisa mencapai ukuran 40 cm jika kaki depannya dipanjangkan. Sebuah spesies kepiting darat raksasa ditemukan di Cocos Island, Costa Rica. Hewan itu ditemukan oleh Robert Perger dan Rita Vargas, peneliti dari University of Costa Rica serta Adam Wall dari Los Angeles County Natural History Museum.

Tim peneliti menemukan kepiting spesies baru itu pada sebuah pulau di kawasan samudera Pasifik. Oleh penemunya, kepiting tersebut diberi nama Johngarthia cocoensis.

Karakteristik yang membedakan antara J. cocoensis dengan kepiting lainnya, menurut peneliti, adalah dari ukurannya yang besar. Seekor kepiting jantan bisa mencapai ukuran 40 sentimeter jika kaki depannya dipanjangkan. Adapun hewan betina memiliki ukuran yang lebih kecil.

Saat ditemukan, spesies kepiting ini tinggal di dalam lubang yang mereka gali sendiri. Santapan utama mereka adalah rumput dan benih-benih.

Menurut Perger, J. cocensis mirip dengan kepiting J. malpilensis yang tinggal di kepulauan sekitar Cocos Island.

“Persamaan antara J. cocensis dengan spesies lainnya di kawasan barat Pasifik mengindikasikan bahwa larva, yang tumbuh berkembang di laut, kemungkinan telah melintas di Cocos Island karena tersapu gelombag,” ucap Perger, seperti dikutip dari News24, 22 Juni 2011.

Hewan-hewan ini, kata Perger, kemudian beradaptasi dengan habitat barunya dan tumbuh menjadi sebuah spesies baru.

Sebagai informasi, Cocos Island berada di lepas pantai Kolombia, namun berada di dalam perairan teritorial Costa Rica. Pulai ini merupakan satu-satunya pulau di kawasan barat Pasifik yang memiliki iklim hutan tropis yang lembab serta memiliki beraneka ragam spesies hewan.

Hewan Unik Ini Terancam Perubahan Iklim

Tahun 2070 mendatang, lebih dari 30% habitat platipus akan terlalu panas untuk ditinggali.Bulu tebal dan anti air yang sempat membuat platipus (Ornithorhynhus anatinus) menjadi target bagi para pemburu kini kembali menghadirkan ancaman bagi hewan unik tersebut. Australia, yang menjadi tempat tinggal platipus dalam waktu dekat akan menjadi terlalu panas hingga mereka tidak lagi bisa bertahan hidup di sana.

Seperti diketahui, bulu platipus sangat hangat dan rapat sehingga membuat hewan semi akuatik ini tidak

kehilangan panas tubuh. Ini sangat penting mengingat platipus menghabiskan waktu hingga 10 jam per hari dalam air dan aliran sungai yang suhunya mencapai 0 derajat Celcius.

Sayangnya, kelebihan ini jusru membuat spesies itu terancam karena perubahan iklim telah memanaskan suhu di Australia. Dari penelitian terbaru yang dipublikasikan di Global Change Biology, diperkirakan di tahun 2070 mendatang, lebih dari 30 persen habitat platipus saat ini akan terlalu panas bagi mereka.

Dari pemodelan yang dibuat, peneliti memperkirakan, kawasan New South Wales, Queensland, dan Victoria, yang merupakan habitat platipus akan mengalami kenaikan suhu hingga 5 derajat Celcius dalam 60 tahun ke depan.

“Bulu yang sangat mengisolasi ini merupakan aset bagi hewan pada iklim dingin. Namun demikian, bulu menjadi beban saat kondisi menghangat,” kata Jenny Davis, dosen dan ekolog dari Monash University, Australia, seperti dikutip dari BBC News, 24 Juni 2011.

Untuk penelitian, Davis dan timnya mempelajari catatan distribusi platipus selama dua abad terakhir. Data kemudian dikombinasikan dengan statistik curah hujan dan temperatur. Dari analisis, terungkap bahwa hingga 1960, habitat platispu umumnya ditentukan oleh jumlah curah hujan.

Setelah 1960, hewan tersebut menghilang dari kawasan di mana temperaturnya secara umum telah meningkat. Menurut Davis, hasil penelitian ini mengindikasikan adanya kebutuhan untuk menjaga tidak hanya habitat hewan akuatik ini, tetapi juga temperatur arus air.

Hingga abad ke 20, platipus merupakan hewan buruan yang bulunya sangat diminati. Beruntung kini hewan itu telah dilindungi oleh undang-undang di Australia.

Platipus sendiri adalah salah satu dari lima spesies mamalia yang bertelur. Mereka juga merupakan satu-satunya anggota dari genus Ornithorhynchus yang masih hidup. Platipus juga merupakan satu-satunya mamalia yang berbisa di seluruh dunia.

Senin, 27 Juni 2011

1.000 Spesies Ditemukan

Sejenis kanguru pohon baru, hiu sungai sepanjang 2,5 meter, kodok dengan taring seperti vampir dan seekor kadal berwarna turquoise merupakan beberapa dari ratusan spesies hewan baru yang ditemukan oleh para konservasionis yang bekerja di New Guinea.



Selama penelitian 10 tahun terakhir, secara total, ada sekitar 1.060 spesies seperti 218 tumbuhan, 43 reptil, 12 mamalia, 580 invertebrata, 134 amfibi, 2 burung dan 71 jenis ikan baru berhasil ditemukan.

Pada laporan bertajuk The Final Frontier yang disusun oleh World Wildlife Fund (WWF) sebagai bagian dari ulang tahun mereka yang ke 50 itu juga menandai meningkatnya tren punahnya hewan dan tumbuhan di seluruh dunia dan membuat seperempat mamalia dunia masuk ke daftar terancam.

Spesies-spesies di atas ditemukan rata-rata dalam kecepatan 2 hewan per minggu dalam rentang 1998 sampai 2008 oleh beberapa kelompok tim peneliti yang mengunjungi berbagai lingkungan pulau itu mulai dari hutan yang lebat, perairan, hingga kawasan pesisir.

Satu tim peneliti pernah menemukan spesies burung baru yang diberi nama wattled smoky honeyeater hanya dalam hitungan detik setelah mereka meninggalkan helikopter yang mengantarkan mereka ke sana. Adapun temuan yang paling mengejutkan mungkin adalah spesies hiu baru.

Melihat dari ukurannya, ikan hiu air tawar ini dinilai sangat berhasil menyembunyikan diri. Ikan yang diberi nama Glyphis garricki, mengikuti nama Jack Garrick, zoologist yang pertamakali menemukannya itu langsung masuk daftar hewan terancam punah karena jumlahnya yang sangat jarang.

“Setelah lebih dari 3 dekade, peneliti juga kembali menemukan satu jenis spesies lumba-lumba baru,” kata Mark Wright, Conservation Science Adviser WWF, seperti dikutip dari Guardian, 27 Juni 2011. “Laporan ini mengingatkan kita bahwa Bumi penuh dengan makhluk fantastis,” ucapnya.

Wright menyebutkan, banyaknya keanekaragaman ini sangat mempesona. Akan tetapi, kegembiraan para peneliti kini berada dalam ancaman. “Meski ada upaya maksimal yang dilakukan oleh organisasi seperti WWF, sangat jelas bahwa kita tidak bisa menyelamatkan seluruh spesies yang kami inginkan,” ucapnya.

“Hutan akan terus ditebangi, sungai-sungai dibendung, pesisir pantai terus dibangun dan sejumlah spesies akan terhapus,” kata Wright. “Kepunahan tidak mungkin dihindari sebagai konsekuensi dari teori ‘seleksi alam’ milik Darwin. Namun manusia akan menambahkan beban yang menjurus ke ‘seleksi tidak alami’ yang terjadi,” ucapnya.

Alam akan berusaha untuk mengatasi, kata Wright. Namun kita sebagai manusia lah yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membangun masa depan di mana lingkungan sangatlah dianggap penting. “Kita harus memilih untuk melakukan itu,” ucapnya.

New Guinea sendiri merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland dan menjadi bagian dari Indonesia dan Papua New Guinea. Pulau ini merupakan tempat bernaungnya hutan hujan terbesar ketiga di dunia dan sekitar 8 persen spesies hewan yang ada di seluruh dunia.

Rendahnya jumlah populasi manusia di pulau itu telah melindungi sejumlah spesies hewan yang ada di sana. Sayangnya di tahun 2020 mendatang, separuh hutan yang ada di sana akan musnah karena penebangan liar.

Minggu, 12 Juni 2011

Seberapa Jauh Ujung Tata Surya?

Satelit Voyager yang berangkat pada tahun 1977 sedang menuju keluar tata surya.

Saat ini, satelit Voyager 1 dan Voyager 2, dua buah pesawat ruang angkasa yang diberangkatkan dari Bumi pada tahun 1977 lalu, sedang menuju keluar dari tata surya.

Kedua satelit kini tengah melewati ujung dari gelombang magnetik yang jaraknya sekitar 9 miliar mil atau sekitar 15 miliar kilometer dari Bumi. Jarak itu tentu merupakan jarak yang

sangat jauh. Akan tetapi jarak sejauh itu juga cukup sulit dibayangkan.

Berikut ini gambaran berapa jauh 15 miliar kilometer, menurut perhitungan para peneliti, dikutip dari Life’s Little Mysteries, 11 Juni 2011.

Pesawat terbang yang bergerak dari Los Angeles di barat Amerika Serikat ke New York yang ada di timur Amerika Serikat atau sebaliknya, menempuh jarak sekitar 3.983 kilometer. Artinya, jika satelit Voyager mengambil rute tersebut, ia telah melakukan sekitar 3 sampai 4 juta perjalanan bolak-balik.

Jika dibandingkan dengan jarak antara Bumi dengan Bulan yang rata-rata mencapai 384.403 kilometer, artinya kedua satelit itu telah bolak balik antara Bumi dan Bulan sebanyak lebih dari 37 ribu kali.

Matahari sendiri memiliki jarak sekitar 150 juta kilometer dari kita. Adapun ujung tata surya kita, dan juga satelit Voyager yang sedang berjalan di sekitar kawasan tersebut, kini mencapai 97 kali lebih jauh jaraknya dibanding Bumi dan Matahari.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Free Samples