Selasa, 28 Juni 2011

7 Jenis Tikus Baru

Tujuh jenis baru tikus hutan ditemukan di Luzon, Filipina. Penemuan ini menambah jumlah jenis mamalia asli Luzon yang hingga kini telah mencapai 49 jenis.

Observasi terhadap ketujuh jenis baru tikus ini telah dilakukan, baik secara morfologi maupun genetiknya. Hasil penelitian, ketujuh tikus itu termasuk dalam subgenus Megapomys yang masuk dalam genus Apomys.


Tikus-tikus yang ditemukan ini relatif lebih lebar. Beratnya sekitar 65 hingga 110 gram. Panjang ekornya rata-rata, sementara kepala dan badannya lebih pendek dari mamalia serupa.

Dua diantara tikus baru yang ditemukan terdapat di Gunung Tapulo di Pegunungan Zambales, dua lagi terdapat di gunung aktif Filipina, Gunung Banahaw, dua jenis lagi di Pegunungan Mingan di Provinsi Aurora dan lainnya terdapat di Pegunungan Sierra Madre di utara Luzon.

"Ini tikus-tikus mengagumkan yang tinggal di hutan yang berada di ketinggian. Meskipun mereka sering dalam jumlah banyak, mereka selalu menghindari manusia dan jarang membahayakan," kata pimpinan proyek penelitian dari The Field Museum Chicago, Lawrence Heaney sebagaimana dikutip laman livescience.com.

"Mereka memilih makan cacing tanah dan biji-bijian yang tersebar di hutan," lanjut dia.

Pemerintah dan peneliti Filipina mengatakan tempat-tempat penemuan tikus itu harus dilindungi dari proses penebaangan liar, perluasan lahan pertanian, dan penambangan liar karena menjadi habitat hidup mereka.

"Meskipun ukurannya kecil, binatang ini merupakan bagian dari keanekaragaman biologi kami yang membentuk dasar ekosistem, yang sehat," kata direktur eksekutif konservasi Filipina-Internasional, Romeo-Trono.

Spesies Kepiting Raksasa



Seekor kepiting jantan bisa mencapai ukuran 40 cm jika kaki depannya dipanjangkan. Sebuah spesies kepiting darat raksasa ditemukan di Cocos Island, Costa Rica. Hewan itu ditemukan oleh Robert Perger dan Rita Vargas, peneliti dari University of Costa Rica serta Adam Wall dari Los Angeles County Natural History Museum.

Tim peneliti menemukan kepiting spesies baru itu pada sebuah pulau di kawasan samudera Pasifik. Oleh penemunya, kepiting tersebut diberi nama Johngarthia cocoensis.

Karakteristik yang membedakan antara J. cocoensis dengan kepiting lainnya, menurut peneliti, adalah dari ukurannya yang besar. Seekor kepiting jantan bisa mencapai ukuran 40 sentimeter jika kaki depannya dipanjangkan. Adapun hewan betina memiliki ukuran yang lebih kecil.

Saat ditemukan, spesies kepiting ini tinggal di dalam lubang yang mereka gali sendiri. Santapan utama mereka adalah rumput dan benih-benih.

Menurut Perger, J. cocensis mirip dengan kepiting J. malpilensis yang tinggal di kepulauan sekitar Cocos Island.

“Persamaan antara J. cocensis dengan spesies lainnya di kawasan barat Pasifik mengindikasikan bahwa larva, yang tumbuh berkembang di laut, kemungkinan telah melintas di Cocos Island karena tersapu gelombag,” ucap Perger, seperti dikutip dari News24, 22 Juni 2011.

Hewan-hewan ini, kata Perger, kemudian beradaptasi dengan habitat barunya dan tumbuh menjadi sebuah spesies baru.

Sebagai informasi, Cocos Island berada di lepas pantai Kolombia, namun berada di dalam perairan teritorial Costa Rica. Pulai ini merupakan satu-satunya pulau di kawasan barat Pasifik yang memiliki iklim hutan tropis yang lembab serta memiliki beraneka ragam spesies hewan.

Hewan Unik Ini Terancam Perubahan Iklim

Tahun 2070 mendatang, lebih dari 30% habitat platipus akan terlalu panas untuk ditinggali.Bulu tebal dan anti air yang sempat membuat platipus (Ornithorhynhus anatinus) menjadi target bagi para pemburu kini kembali menghadirkan ancaman bagi hewan unik tersebut. Australia, yang menjadi tempat tinggal platipus dalam waktu dekat akan menjadi terlalu panas hingga mereka tidak lagi bisa bertahan hidup di sana.

Seperti diketahui, bulu platipus sangat hangat dan rapat sehingga membuat hewan semi akuatik ini tidak

kehilangan panas tubuh. Ini sangat penting mengingat platipus menghabiskan waktu hingga 10 jam per hari dalam air dan aliran sungai yang suhunya mencapai 0 derajat Celcius.

Sayangnya, kelebihan ini jusru membuat spesies itu terancam karena perubahan iklim telah memanaskan suhu di Australia. Dari penelitian terbaru yang dipublikasikan di Global Change Biology, diperkirakan di tahun 2070 mendatang, lebih dari 30 persen habitat platipus saat ini akan terlalu panas bagi mereka.

Dari pemodelan yang dibuat, peneliti memperkirakan, kawasan New South Wales, Queensland, dan Victoria, yang merupakan habitat platipus akan mengalami kenaikan suhu hingga 5 derajat Celcius dalam 60 tahun ke depan.

“Bulu yang sangat mengisolasi ini merupakan aset bagi hewan pada iklim dingin. Namun demikian, bulu menjadi beban saat kondisi menghangat,” kata Jenny Davis, dosen dan ekolog dari Monash University, Australia, seperti dikutip dari BBC News, 24 Juni 2011.

Untuk penelitian, Davis dan timnya mempelajari catatan distribusi platipus selama dua abad terakhir. Data kemudian dikombinasikan dengan statistik curah hujan dan temperatur. Dari analisis, terungkap bahwa hingga 1960, habitat platispu umumnya ditentukan oleh jumlah curah hujan.

Setelah 1960, hewan tersebut menghilang dari kawasan di mana temperaturnya secara umum telah meningkat. Menurut Davis, hasil penelitian ini mengindikasikan adanya kebutuhan untuk menjaga tidak hanya habitat hewan akuatik ini, tetapi juga temperatur arus air.

Hingga abad ke 20, platipus merupakan hewan buruan yang bulunya sangat diminati. Beruntung kini hewan itu telah dilindungi oleh undang-undang di Australia.

Platipus sendiri adalah salah satu dari lima spesies mamalia yang bertelur. Mereka juga merupakan satu-satunya anggota dari genus Ornithorhynchus yang masih hidup. Platipus juga merupakan satu-satunya mamalia yang berbisa di seluruh dunia.

Senin, 27 Juni 2011

1.000 Spesies Ditemukan

Sejenis kanguru pohon baru, hiu sungai sepanjang 2,5 meter, kodok dengan taring seperti vampir dan seekor kadal berwarna turquoise merupakan beberapa dari ratusan spesies hewan baru yang ditemukan oleh para konservasionis yang bekerja di New Guinea.



Selama penelitian 10 tahun terakhir, secara total, ada sekitar 1.060 spesies seperti 218 tumbuhan, 43 reptil, 12 mamalia, 580 invertebrata, 134 amfibi, 2 burung dan 71 jenis ikan baru berhasil ditemukan.

Pada laporan bertajuk The Final Frontier yang disusun oleh World Wildlife Fund (WWF) sebagai bagian dari ulang tahun mereka yang ke 50 itu juga menandai meningkatnya tren punahnya hewan dan tumbuhan di seluruh dunia dan membuat seperempat mamalia dunia masuk ke daftar terancam.

Spesies-spesies di atas ditemukan rata-rata dalam kecepatan 2 hewan per minggu dalam rentang 1998 sampai 2008 oleh beberapa kelompok tim peneliti yang mengunjungi berbagai lingkungan pulau itu mulai dari hutan yang lebat, perairan, hingga kawasan pesisir.

Satu tim peneliti pernah menemukan spesies burung baru yang diberi nama wattled smoky honeyeater hanya dalam hitungan detik setelah mereka meninggalkan helikopter yang mengantarkan mereka ke sana. Adapun temuan yang paling mengejutkan mungkin adalah spesies hiu baru.

Melihat dari ukurannya, ikan hiu air tawar ini dinilai sangat berhasil menyembunyikan diri. Ikan yang diberi nama Glyphis garricki, mengikuti nama Jack Garrick, zoologist yang pertamakali menemukannya itu langsung masuk daftar hewan terancam punah karena jumlahnya yang sangat jarang.

“Setelah lebih dari 3 dekade, peneliti juga kembali menemukan satu jenis spesies lumba-lumba baru,” kata Mark Wright, Conservation Science Adviser WWF, seperti dikutip dari Guardian, 27 Juni 2011. “Laporan ini mengingatkan kita bahwa Bumi penuh dengan makhluk fantastis,” ucapnya.

Wright menyebutkan, banyaknya keanekaragaman ini sangat mempesona. Akan tetapi, kegembiraan para peneliti kini berada dalam ancaman. “Meski ada upaya maksimal yang dilakukan oleh organisasi seperti WWF, sangat jelas bahwa kita tidak bisa menyelamatkan seluruh spesies yang kami inginkan,” ucapnya.

“Hutan akan terus ditebangi, sungai-sungai dibendung, pesisir pantai terus dibangun dan sejumlah spesies akan terhapus,” kata Wright. “Kepunahan tidak mungkin dihindari sebagai konsekuensi dari teori ‘seleksi alam’ milik Darwin. Namun manusia akan menambahkan beban yang menjurus ke ‘seleksi tidak alami’ yang terjadi,” ucapnya.

Alam akan berusaha untuk mengatasi, kata Wright. Namun kita sebagai manusia lah yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membangun masa depan di mana lingkungan sangatlah dianggap penting. “Kita harus memilih untuk melakukan itu,” ucapnya.

New Guinea sendiri merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland dan menjadi bagian dari Indonesia dan Papua New Guinea. Pulau ini merupakan tempat bernaungnya hutan hujan terbesar ketiga di dunia dan sekitar 8 persen spesies hewan yang ada di seluruh dunia.

Rendahnya jumlah populasi manusia di pulau itu telah melindungi sejumlah spesies hewan yang ada di sana. Sayangnya di tahun 2020 mendatang, separuh hutan yang ada di sana akan musnah karena penebangan liar.

Minggu, 12 Juni 2011

Seberapa Jauh Ujung Tata Surya?

Satelit Voyager yang berangkat pada tahun 1977 sedang menuju keluar tata surya.

Saat ini, satelit Voyager 1 dan Voyager 2, dua buah pesawat ruang angkasa yang diberangkatkan dari Bumi pada tahun 1977 lalu, sedang menuju keluar dari tata surya.

Kedua satelit kini tengah melewati ujung dari gelombang magnetik yang jaraknya sekitar 9 miliar mil atau sekitar 15 miliar kilometer dari Bumi. Jarak itu tentu merupakan jarak yang

sangat jauh. Akan tetapi jarak sejauh itu juga cukup sulit dibayangkan.

Berikut ini gambaran berapa jauh 15 miliar kilometer, menurut perhitungan para peneliti, dikutip dari Life’s Little Mysteries, 11 Juni 2011.

Pesawat terbang yang bergerak dari Los Angeles di barat Amerika Serikat ke New York yang ada di timur Amerika Serikat atau sebaliknya, menempuh jarak sekitar 3.983 kilometer. Artinya, jika satelit Voyager mengambil rute tersebut, ia telah melakukan sekitar 3 sampai 4 juta perjalanan bolak-balik.

Jika dibandingkan dengan jarak antara Bumi dengan Bulan yang rata-rata mencapai 384.403 kilometer, artinya kedua satelit itu telah bolak balik antara Bumi dan Bulan sebanyak lebih dari 37 ribu kali.

Matahari sendiri memiliki jarak sekitar 150 juta kilometer dari kita. Adapun ujung tata surya kita, dan juga satelit Voyager yang sedang berjalan di sekitar kawasan tersebut, kini mencapai 97 kali lebih jauh jaraknya dibanding Bumi dan Matahari.

Kamis, 09 Juni 2011

Predator Terbesar di Bumi

Monster ini adalah predator paling besar di dunia di zamannya. Ia hidup jutaan lalu, tumbuh membesar dan terus bertahan dalam kurun waktu yang begitu panjang.

Hewan laut yang lebih dikenal sebagai anomalocaridid itu sebenarnya tak begitu besar. Ukurannya antara 0,6 - 1,8 meter. Namun di masanya ia merupakan predator dengan ukuran tubuh yang

paling besar.

Spesies yang bentuknya mirip udang itu punya bagian tubuh yang lunak, perut yang bergerigi, serta anggota tubuh mirip sungut, yang berduri. Fungsinya adalah untuk menyeret cacing atau mangsa lainnya untuk dilahap.

"Hewan ini berada di atas mata rantai makanan. Ia adalah predator yang tak tertandingi di masanya," ujar Peter Van Roy, seorang paleobiologist dari Ghent University Belgia, seperti dikutip dari situs LiveScience.

Hasil riset terakhir menunjukkan bahwa binatang ini sempat merajai daerah perairan pada periode Cambrian pertengahan, antara 542 juta sampai 501 juta tahun yang lalu. Periode ini adalah masa di mana seluruh grup besar di kerajaan binatang muncul, dan ekosistem kompleks tengah terbentuk.

Bahkan , menurut peneliti Derek Briggs yang juga Direktur Yale Peabody Museum of Natural History, anomalocaridid adalah salah satu kelompok yang paling ikonik di antara grup-grup binatang di zaman Cambrian.

Fosil terbesar dari binatang ini ditemukan di gurun berbatu di sebelah tenggara Maroko, oleh kolektor bernama Mohammed Ben Moula. Dari fosil, diketahui bahwa predator ini hidup 30 juta tahun lebih lama daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Dari fosil juga ditemukan struktur mirip 100 pedang fleksibel di setiap segmen di sepanjang punggung mereka. Para peneliti meyakini organ itu mungkin berfungsi sebagai insang. Ia hidup di dasar laut yang berlumpur, dengan kedalaman setidaknya 100 meter di bawah permukaan laut.

Menurut Van Roy, anomalocaridid bertahan sekian lama menunjukkan bahwa mereka mampu beradaptasi dengan baik dan merupakan predator yang sukses. Belum diketahui pasti apa penyebab anomalocaridid bisa punah.

Namun, ilmuwan curiga kepunahan binatang itu terkait dengan kemunculan dua predator lain di awal masa Ordovician (periode setelah Cambrian - sekitar 488 juta hingga 472 juta tahun silam), yakni eurypterid (kalajengking laut) dan nautiloid (seperti cumi-cumi dengan rumah kerang kerucut). Sebab, dua predator itu memiliki ukuran tubuh yang lebih besar.

"Sepertinya anomalocaridid tak bisa bersaing oleh predator-predator yang lebih canggih dan bisa beradaptasi lebih baik. Sementara anomalocaridid pada dasarnya memiliki tubuh yang lunak, eurypterid memiliki exoskeleton yang lebih keras. Adapun nautiloid punya kerang yang kokoh dan paruh yang bertenaga," kata Van Roy.

Benarkah Makan Tanah Bagus untuk Perut ??

Bagi kebanyakan orang di dunia, makan lumpur adalah hal yang menjijikkan. Namun, kita sering menemukan, anak-anak sering tidak sengaja memakan lumpur saat bermain.

Tapi tahukah Anda, ternyata lumpur sangat baik bagi perut. Menurut hasil penelitian, manusia geophagy memakan lumpur rupanya untuk

melindungi lambung karena dapat melindungi terhadap racun, parasit dan pathogens.

Menurut Sera Young, peneliti dari Cornell University dan yang menjadi penulis utama dalam penelitian ini mengungkapkan, manusia geophagy berasal dari Hippocrates yang sudah ada sejak 2000 tahun lalu. Sejak saat itulah terus dilaporkan di setiap tempat adanya orang yang memakan tanah.

Namun, para ilmuwan sampai sekarang tidak bisa menjelaskan mengapa orang suka memakan tanah. Beberapa peneliti berpikir, geophagy adalah konsekuensi dari kekurangan makanan. Dengan kata lain, orang memakan tanah untuk mengurangi rasa sakit akibat kelaparan, meskipun tidak memberikan nilai gizi.

Penjelasan lain karena mengkonsumsi tanah dinilai mengandung gizi karena nutrisi mereka berkurang seperti; kalsium, dan zat besi. Di sisi lain, tanah dinilai mempunyai zat yang efektif dapat menjadi bakteri baik melindungi dari racun dan bakteri buruk.

Sebuah studi mengindikasikan, pada umumnya orang-orang makan tanah pada saat persediaan makanan menipis. Ketika mereka makan tanah, mereka hanya makan dalam jumlah sedikit. Geophagy digambarkan secara umum pada perempuan di awal kehamilan dan balita

Menurut hipotesis yang ditemukan, bahwa nutrisi yang ditemukan sangat sedikit yang sesuai. Lebih dari itu, hipotesis disesuaikan dengan data yang ada sesuai dengan penemuan dalam penelitian.

Kategori kedua, menurut Young, yang sensitif terhadap racun parasit tergantung pada dirinya sendiri dan keturunan keluarga. Selain itu, geophagy yang paling umum berada di daerah beriklim tropis di mana mikroba bawaan makanan yang berlimpah.

Penakhluk Semut Argentina

Semut Argentina dikenal sangat tangguh diantara semut-semut lainnya di dunia. Jenis semut ini telah menyebar ke seluruh dunia, terutama melalui kapal-kapal pengirim gula dari Argentina.

Dimana mereka singgah, semut Argentina selalu menjadi raja dengan

mengalahkan jenis semut asli setempat. Dalam setiap 'peperangan' dengan semut-semut asli di tempat barunya, semut Argentina selalu menjadi pemenangnya.

Bahkan, di California, semut Argentina dinyatakan sebagai hama karena ulahnya yang selalu merusak tanaman jeruk para petani.

Namun, kegarangan dan kehebatan semut-semut Argentina itu belakangan mendapat tandingan dari spesies semut lainnya. Dia adalah 'semut musim dingin'. Semut ini belakangan diketahui mampu menakhlukkan semut Argentina itu.

Semut musim dingin ini memiliki kemampuan beradaptasi lebih baik dengan cuaca yang sangat dingin dari pada serangga lainnya. Mereka membuat racun dalam kelenjar di perut untuk beradaptasi dengan lingkungan dinginnya. Kelenjar itu mengeluarkan obat ketika berada di bawah tekanan ekstrim.

Dari hasil penelitian, ternyata racun yang dikeluarkan oleh semut musim dingin ini mampu 'menjinakkan' semut Argentina. Satu tetes kecil racun semut musim dingin, mampu mengakhiri hidup semut Argentina. Dari percobaan laboratorium, pengujian racun memiliki tingkat membunuh 79 persen.

"Ini adalah kasus pertama kali terdokumentasi dengan baik. Dimana spesies asli yang berhasil melawan semut Argentina," kata Deborah M. Gordon, seorang profesor biologi di Stanford sebagaimana dilansir oleh upi.com, Rabu 8 Juni 2011.

Mahasiswa Gordon inilah yang pertama kali melihat semut-semut musim dingin ini mengeluarkan racunnya. "Pada awalnya, saya tidak percaya," kata dia.

"Ini adalah sekelompok semut yang tidak memiliki penyengat dan Anda tidak melihat mereka bertindak agresif, namun para siswa mampu menunjukkan dengan sangat jelas bahwa semut ini tidak hanya menggunakan racun, tapi kapan mereka menggunakannya, bagaimana mereka menggunakannya dan apa dampaknya."

Kulit Katak jadikan Obat Kanker



Penelitian para ilmuwan dari Queen's School of Pharmacy menemukan protein pada kulit katak yang bermanfaat untuk pengobatan. Jenis protein yang ditemukan itu, berpotensi besar dapat mengobati penyakit kanker, stroke, dan menyembuhkan luka pascaopereasi dengan mengatur pertumbuhan pembuluh darah.

Penelitian yang dipimpin oleh

Profesor Shaw itu berhasil mengidentifikasi dua protein atau ‘peptida’ yang dapat mengontrol ‘angiogenesis', sebuah proses pembuatan pembuluh darah dalam tubuh.

Penemuan ini berpotensi mengembangkan obat baru penyakit yang telah mempengaruhi kondisi manusia selama70 tahun dan dirasakan lebih dari satu miliar orang di seluruh penjuru dunia itu.

Protein itu ditemukan dalam sekresi pada kulit katak Waxy Monkey dan the Giant Firebellied Toad. Dalam penelitian itu, para ilmuwan menangkap katak-katak dan mengambil protein hasil sekresi pada kulit katak sebelum melepaskan kembali ke alam bebas. Katak-katak itu tak menderita sedikitpun selama proses ini.

Menurut Profesor Shaw, protein yang ditemukan itu memiliki kemampuan, baik untuk merangsang atau membatasi pertumbuhan pembuluh darah.

Dia mengatakan, protein yang ditemukan pada kulit katak the Waxy Monkey bisa menghambat angiogenesis. Dengan ‘mematikan', angiogenesis dan menghambat pertumbuhan pembuluh darah, protein ini berpotensi dapat membunuh tumor kanker.

Kebanyakan, tumor kanker hanya dapat tumbuh sampai ukuran tertentu sebelum mereka memerlukan pembuluh darah yang tumbuh dalam tumor untuk memasok nutrisi penting dan oksigen. "Menghentikan pertumbuhan pembuluh darah akan memperkecil kemungkinan penyebaran tumor dan akhirnya membunuh tumor kanker," kata Sahw seperti dilansil laman medindia.net, Selasa 6 Juni 2011.

Sebaliknya, para ilmuwan menemukan protein yang mampu menghidupkan dan merangsang pertumbuhan pembuluh darah pada the Giant Firebellied Toad. Protein ini sangat potensial menyembuhkan susunan organ yang ditransplantasi, luka diabetes, dan kerusakan yang disebabkan oleh stroke atau kondisi jantung.

Shaw mengatakan penelitian yang dilakukan timnya ini merupakan keberhasilan mendapatkan solusi alami, padahal metode percobaan obat lain mengalami kegagalan. Karena besarnya potensi ini, angiogenesis menjadi target utama dari penelitian pengembangan obat-obatan selama empat puluh tahun. "Meski dana yang dikeluarkan peneliti dan perusahaan obat dunia cukup besar US$ 4-5 juta, mereka belum mengembangkan obat yang efektif membunuh target, mengontrol dan mengatur pertumbuhan pembuluh darah," kata dia.

Usaha ini, kata Shaw, telah membuka potensi alamiah untuk pengobatan, yakni dengan penemuan sekresi pada kulit katak dan kodok bangkong. "Kami sangat yakin alam memiliki solusi terhadap banyak masalah kita," kata dia.

Peneliti dari Queen ini mendapat penghargaan inovasi penyakit jantung pada Medical Future Innovation di London. Penghargaan ini termasuk anugrah bergengsi Eropa dalam bidang kesehatan dan bisnis.

Senin, 04 April 2011

Spesies Baru Ikan Pari dari Amazon

Para biolog berhasil menemukan dua spesies ikan pari air tawar baru dari hutan Amazon. Kedua pari tersebut secara informal disebut sebagai pari panekuk karena penampakannya yang mirip panekuk berukuran raksasa.

Kedua spesies tersebut berukuran cukup besar, dinamai

Heliotrygon gomesi dan Heliotrygon rosai. Spesimen Heliotrygon gomesi ditemukan di wilayah hutan hujan tropis dekat Iquitos, Peru.

Famili ikan jenis tersebut, terdiri dari ikan pari air tawar di wilayah tropis yang disebut New World, memang dikenal berukuran cukup besar. Ikan pari air tawar bisa mencapai ukuran diameter 1,5 meter saat dewasa.

Penemuan itu dipublikasikan di jurnal Zootaxa edisi 24 Februari 2011. Peneliti sangat terkesan dengan hasil penelitian tersebut. Penemuan ini membuktikan bahwa hutan Amazon belum sepenuhnya tereksplorasi dan terdokumentasi.

Nathan Lovejoy dari Universitas Toronto mengatakan, "Hal terpenting yang diberitahukan penelitian ini adalah masih adanya ikan-ikan besar lain di Amazon yang belum ditemukan dan dideskripsikan."

Selain unik karena bentuknya yang mirip panekuk, ikan pari ini juga berbeda karena ukurannya yang relatif besar, memiliki celah pada bagian perutnya, dan struktur seperti duri di ekornya.

Tigerfish, Ikan Buas Afrika

Angler Jeremy Wade, seorang pemancing profesional asal Inggris merupakan satu dari sedikit orang yang berhasil menangkap tigerfish. Ia berhasil mengalahkan ikan sepanjang 5 kaki atau sekitar 1,5 meter berbobot 45 kg setelah berupaya menangkapnya selama

8 hari.

“Ikan ini sangat jarang dan sulit ditangkap karena ia tinggal di kawasan yang sangat terpencil dan sulit dijangkau,” kata Wade, seperti dikutip dari River Monsters. “Tidak ada pemandu atau pun penginapan di kawasan sekitar tempat tinggal ikan ini di sungai Congo,” ucapnya.

Wade menyebutkan, ikan ini juga sangat berbahaya untuk ditangkap. “Jika Anda tidak berhati-hati, ia dapat dengan mudah mencopot jari Anda atau lebih buruk lagi,” ucapnya.

Bakteri Pengganti Pasta Gigi

Peneliti berhasil menemukan senjata baru dalam memerangi kerusakan gigi. Caranya menggunakan enzim yang diproduksi oleh bakteri mulut yang justru mencegah pembentukan plak. Temuan ini membuka peluang pembuatan pasta gigi yang memanfaatkan alat pembasmi plak milik tubuh.

Seperti diketahui, mulut manusia penuh dengan bakteri. Lebih dari 700 spesies hadir di ruangan yang hangat dan lembab, termasuk

Streptococcus mutans (S. mutans), salah satu komponen utama plak.

Melekat dengan gigi dalam lapisan tipis yang disebut biofilm, S. mutans mencerna gula dan memproduksi asam yang memakan enamel dan menyebabkan gigi berlubang. Selain S. mutans, bakteri-bakteri lain merupakan tamu yang lebih ramah.

Sebagai contoh, tahun 2009 lalu, peneliti menemukan bahwa S. salivarius, jenis bakteri yang ditemukan di lidah dan jaringan lunak lain di mulut, justru menurunkan perkembangan biofilm S. mutans.

Seperti dikutip dari Sciencemag, 4 April 2011, Hidenobu Senpuku dan rekan-rekannya, biolog asal National Institute of Infectious Diseases, Tokyo, Jepang mengamati zat yang menghadirkan kemampuan mencegah lubang dari S. salivarius.

Menggunakan teknik kromatografi, metode di mana molekul dibagi berdasarkan isi atau ukuran, peneliti memisahkan tiap-tiap protein dari sampel mikroba yang diambil. Peneliti kemudian mencampur setiap protein dengan sel S. mutans dan mengukur kombinasi mana yang menumbuhkan jumlah biofilm dalam jumlah yang paling sedikit dalam wadah di lab.

Dari uji coba, diketahui bahwa protein FruA, sebuah enzim yang berfungsi memecahkan gula yang kompleks, merupakan pemblokir biofilm yang paling bertenaga.

Peneliti juga mendapati bahwa salah satu bentuk FruA, yang diproduksi oleh jamur Aspergillus niger yang tersedia di mulut juga mengatasi plak dengan sama baik. FruA ini juga bekerja dengan baik meski asam amino yang dimiliki berbeda dengan FruA yang dipunyai oleh S. salivarius. “Ini dapat mempercepat penemuan pasta gigi yang mengandung FruA,” kata Senpuku.

Meski begitu, temuan yang dipublikasikan di Applied and Environmental Microbiology tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk orang memakan seluruh permen yang ada. Pasalnya, saat peneliti meningkatkan konsentrasi sucrose, salah satu jenis gula dalam campuran yang mengandung FruA dari S. salivarius dan S. mutans, kelebihan bakteri itu dalam mencegah pembentukan biofilm menjadi musnah.

Peneliti menyebutkan bahwa hasil temuan mereka mungkin menjelaskan sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1996 lalu mengungkapkan hubungan FruA terhadap pembentukan lubang gigi pada tikus.

Mary Ellen Davey, mikrobiolog asal Forsyth Institute di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat setuju bahwa temuan ini bisa memicu pembuatan pasta gigi yang lebih baik. Namun menurutnya, itu bukan hal mudah.

“Menemukan formulasi yang menggaransi bahwa enzim itu tetap aktif setelah ia disimpan di dalam tabung dan dijual di toko obat merupakan tantangan yang besar,” ujar Davey.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Free Samples